Riset Jepang Menunjukkan 1 Dari 3 Pria Ditakdirkan Untuk Jomblo Selamanya
“Fukuyama-san”, adalah seorang pria berusia 43 tahun yang mapan dan
single.
Bukannya dia tidak mau menikah, namun dia tidak bisa, atau tepatnya
tidak punya kesempatan untuk itu. Padahal dia memiliki pekerjaan tetap
dengan gaji 5 juta Yen per tahunnya. Alasannya adalah karena dia
memiliki orang tua yang bergantung kepadanya, situasi yang umum terlihat
di generasi paruh baya di Jepang. Kemungkinan untuk menikah sepertinya
datang dan pergi begitu saja.
Orang tua dari Fukuyama cerai di usia senja, dan Fukuyama di umur 30
tahun harus mengurus rumah bersama dengan bapaknya. Pacar silih
berganti, namun saat umurnya sudah matang, kesehatan bapaknya menurun.
Pernikahan artinya menempuh jalan hidup baru bagi semua orang, dan
pastinya Fukuyama tidak bisa meninggalkan bapaknya begitu saja.
Arti menikah sepertinya sudah berubah di Jepang, sebagai gambarannya
pada tahun 2010 ada 20,1 persen pria dan 10,6 persen wanita yang
menganggap dirinya “single selamanya.” Pada tahun 2020, angka untuk para
pria dikisarkan akan menjadi 29 persen!
Keburu jadi om-om ganteng.
Majalah Spa! yang terbit tanggal 21 Juni mencari tahu sumber masalah
ini dengan membuat survei miliknya sendiri. Mereka bertanya kepada 200
pria berumur 35-44 tahun, dan mendapatkan 61 persen responden ingin
menikah di suatu saat di hidupnya, walaupun tidak harus cepat-cepat.
Hanya 15 persen dari para responden yang memilih untuk tidak akan
menikah, selamanya.
Masalah paling utama untuk pernikahan adalah masalah finansial, namun
kasus Fukuyama di atas membuktikan mungkin uang bukanlah masalah utama.
Tinggal dengan bapaknya, kini Fukuyama hidup dengan beban rumah yang
kreditnya diambil bapaknya bertahun-tahun lalu. Namun hal itu sepertinya
kecil bila mengingat apa yang harus dilakukan untuk bapaknya di masa
mendatang, tagihan kesehatan, apakah perlu masuk panti jompo, dan masih
banyak kemungkinan lain yang bisa membuatnya pusing dibanding
pernikahan.
Masalah lainnya adalah para pekerja muda kali ini hidup di era dengan
pertumbuhan ekonomi yang menurun. Tidak sedikit yang berkata kepada
Spa!, “
Kalau aku punya anak, aku tidak akan bisa memberikan mereka apa yang orang tuaku berikan padaku.” Dengan alasan tersebut, banyak yang memutuskan tidak perlu memiliki keturunan.
Contoh kasus lain adalah “Egawa-san”, 42 tahun, dia ganteng,
supel,
dan sukses. Penghasilannya mencapai 6 juta Yen per tahunnya. Dia juga
punya banyak teman, dia senang untuk bergaul dan bertemu orang baru.
Namun untuk masalah cinta, sepertinya tidak begitu. “
Aku tidak suka dikekang,” menurutnya. “
Dengan teman-temanku, aku bisa bersenang-senang. Tapi cinta tidak membawa apapun selain masalah.”
Yang suka bikin orang bingung mau menikah atau tidak…
Egawa tidak minum, dia juga tidak berjudi, dia bahkan tidak pernah
‘jajan’ di tempat-tempat mesum. Dia senang memasak dan tidak merasa
kesepian bila masakan itu hanya untuknya. Dia bekerja untuk perusahaan
penerbit yang sama sejak dia lulus kuliah 20 tahun lalu dan bahagia
dengan pekerjaannya. Dia bisa menabung 50.000 Yen per bulan dan jauh
dari kata miskin.
Memang setiap orang punya alasan masing-masing untuk menikah
atau untuk memutuskan hidup sendiri dan bahagia dengan caranya
masing-masing. Bukan hak orang lain untuk menentukan kapan seseorang
harus menikah atau dengan siapa dia harus menikah. Setidaknya, keduanya
harus sama-sama dewasa untuk memutuskan apakah mereka siap menjalani
hidup bersama-sama.
Apakah kamu lebih nyaman hidup sendiri? Atau apakah kamu merasa butuh pasangan yang melengkapi hidupmu?